Kamis, 05 Mei 2011

Berita Khusus


Lomba LCCK Jatim
Rasa syukur tak terhingga, bahagia dan bangga karena akhirnya KIM Suka Maju dapat masuk ke babak final dan diberi kesempatan bertanding dengan tiga finalis lainnya (Surabaya, Sidoarjo, dan Sumenep) dalam rangka Lomba Cerdik Cermat Komunikatif (LCCK) Jawa Timur yang ditempatkan di Kabupaten Sumenep tanggal 5 Mei 2011.

Rasa banggapun kian bertambah, saat KIM Suka Maju memperoleh Juara II Lomba Cerdik Cermat Komunikatif tersebut. Walaupun target juara I masih belum tercapai, namun kami sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk Kabupaten Pamekasan.

Terimakasih tak terhingga kami sampaikan kepada Dewan Juri yang terhormat, antara lain: 1) Bapak Miswan Hadi; 2) Ibu Isrofi Farida; 3) Bapak Zainal Arifin; 4) Bapak Toni Suhardi, atas kritik dan sarannya, serta Bapak/ibu dari Dishub Kominfo Kabupaten Pamekasan (Bapak Fathorrahman, Bapak Imam, Ibu Lina dan Ibu Ummi) atas dukungannya baik moril maupun materiil untuk kemajuan KIM Suka Maju Kabupaten Pamekasan.

Kami bertekat untuk selalu menyajikan informasi yang bermanfaat bagi masyarakat pamekasan pada khususnya, sehingga bermanfaat bagi masyarakat supaya arah dan tujuan pembangunan Kabupaten Pamekasan tercapai secara optimal. (Yuli)

Rabu, 04 Mei 2011

Pencemaran lingkungan dan dampaknya

Pencemaran lingkungan hidup – Inti dari permasalahan lingkungan hidup adalah hubungan makhluk hidup, khususnya manusia dengan lingkungan hidupnya. Ilmu tentang hubungan timbal balik makhluk hidup dengan lingkungan hidupnya di sebut ekologi.Lingkungan hidup adalah sistem yang merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dengan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan peri kehidupannya dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya.Dari definisi diatas tersirat bahwa makhluk hidup khususnya merupakan pihak yang selalu memanfaatkan lingkungan hidupnya, baik dalam hal respirasi, pemenuhan kebutuhan pangan, papan dan lain-lain. Dan, manusia sebagai makhluk yang paling unggul di dalam ekosistemnya, memiliki daya dalam mengkreasi dan mengkonsumsi berbagai sumber-sumber daya alam bagi kebutuhan hidupnya.

Di alam terdapat berbagai sumber daya alam. yang merupakan komponen lingkungan yang sifatnya berbeda-beda, dimana dapat digolongkan atas :
- Sumber daya alam yang dapat diperbaharui (renewable natural resources)
- Sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui (non-renewable natural resources).
Berbagai sumber daya alam yang mempunyai sifat dan perilaku yang beragam tersebut saling berinteraksi dalam bentuk yang berbeda-beda pula. Sesuai dengan kepentingannya maka sumber daya alam dapat dibagi atas;
(a). fisiokimia seperti air, udara, tanah, dan sebagainya,
(b). biologi, seperti fauna, flora, habitat, dan sebagainya, dan
(c). sosial ekonomi seperti pendapatan, kesehatan, adat-istiadat, agama, dan lain-lain.

Interaksi dari elemen lingkungan yaitu antara yang tergolong hayati dan non-hayati akan menentukan kelangsungan siklus ekosistem, yang didalamnya didapati proses pergerakan energi dan hara (material) dalam suatu sistem yang menandai adanya habitat, proses adaptasi dan evolusi.Dalam memanipulasi lingkungan hidupnya, maka manusia harus mampu mengenali sifat lingkungan hidup yang ditentukan oleh macam-macam faktor. Berkaitan dengan pernyataan ini, sifat lingkungan hidup dikategorikan atas dasar :
(1). Jenis dan jumlah masing-masing jenis unsur lingkungan hidup tersebut,
(2). hubungan atau interaksi antara unsur dalam lingkungan hidup tersebut,
(3). kelakuan atau kondisi unsur lingkungan hidup, dan
(4). faktor-faktor non-materil, seperti cahaya dan kebisingan.

Senin, 02 Mei 2011

Nata De Coco


PELUANG USAHA DENGAN PEMANFAATAN LIMBAH AIR KELAPA
Oleh : Yuli Astini Irawati

Hmm... segarnya menikmati es plus Nata de coco  di siang hari saat cuaca panas. Namun tak banyak yang tahu, makanan sehat  kaya serat ini berasal dari air kelapa yang biasanya dibuang sebagai limbah. Di pasar Gurem Pamekasan, saya mendapatkan limbah air kelapa ini gratis. Saya menampung air kelapa dari penjual kelapa yang kemudian saya manfaatkan untuk membuat nata de coco.

Nata de coco merupakan makanan berserat yang dibentuk oleh species bakteri asam asetat pada permukaan cairan yang mengandung gula dalam hal ini adalah bakteri  Acetobacter xylinum.Nata de coco berpenampilan warna putih agak bening, tekstur kenyal dan berbau segar. Itulah sebabnya nata de coco sering digunakan sebagai makanan penutup atau makanan pencuci mulut (desert). Dalam Nata de coco terdapat kandungan selulosa kadar tinggi dan serat yang bermanfaat bagi kesehatan dalam membantu pencernaan. Nata de coco juga merupakan alternatif makanan diet karena kandungan kalorinya yang rendah.
Pemanfaatan limbah pengolahan kelapa berupa air kelapa merupakan cara mengoptimalkan pemanfaatan buah kelapa. Limbah air kelapa cukup baik digunakan untuk substrat pembuatan Nata de Coco. Menurut sumber yang saya baca (Misgiyarta: Balai besar penelitian dan pengembangan pasca panen pertanian 2007) bahwa Air kelapa dapat dimanfaatkan sebagai substrat media pengembangbiakan bakteri Acetobacter xylinum menghasilkan Nata de coco karena mengandung gula sukrosa 1,28%,  , mineral Mg2+ 3,54 gr/l. Adanya gula sukrosa dalam air kelapa akan dimanfaatkan oleh Acetobacter xylinum sebagai sumber energi, maupun sumber karbon untuk membentuk senyawa metabolit diantaranya adalah selulosa yang membentuk Nata de Coco. Senyawa peningkat pertumbuhan mikroba (growth promoting factor) akan meningkatkan pertumbuhan mikroba, sedangkan adanya mineral dalam substrat akan membantu meningkatkan aktifitas enzim kinase dalam metabolisme di dalam sel Acetobacter xylinum untuk menghasilkan selulosa.
Pemanfaatan limbah air kelapa menjadi Nata de coco merupakan upaya pemanfaatan limbah menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Pembuatanya pun cukup mudah yaitu melalui proses fermentasi yang dilakukan melalui tahap-tahap antara lain: Persiapan bahan dan alat; Pemeliharaan biakan murni Acetobacter xylinum;  Pembuatan starter;  Fermentasi; Pemanenan; Pengolahan; Pengemasan.

PROSES PEMBUATAN Nata de Coco
Peralatan yang diperlukan:
1.      Kompor.
2.      Panci untuk merebus media/ air kelapa.
3.      Pengaduk.
4.      Pisau pengiris nata.
5.      Saringan air kelapa/ ayakan tepung.
6.      Nampan/ wadah untuk fermentasi.
7.      Kain putih/mori untuk penutup 3 m.
8.      Tali pengikat/karet.
9.      Ember/baskom perendam/pencuci.

Bahan yang diperlukan:
1.      Air kelapa 25 liter.
2.      Gula pasir 2,5 kg.
3.      Asam cuka (asam asetat 25%)/asam cuka dapur 400 mili liter.
4.      Nitrogen 25 g.
5.      Sirup rasa dan warna disesuaikan kesukaan
6.      gelas (kemasan gelas)

Substrat adalah media pertumbuhan bakteri Acetobacter xylinum, bentuk cair yang didalamnya mengandung nutrisi yang diperlukan untuk pertumbuhan Acetobacter xylinum, untuk menghasilkan Nata de Coco.
Cara penyiapan substrat untuk pembuatan Nata de Coco dengan bahan baku air kelapa adalah sebagai berikut; air kelapa yang diperoleh dari pasar disaring dengan menggunakan kain saring bersih. Kedalam air kelapa ditambahkan sukrosa (gula pasir) sebanyak 10% Gula ditambahkan sambil dipanaskan, diaduk hingga homogen. Nitrogen (sebanyak 5 gram Nitrogen untuk setiap 1 liter air kelapa bergula yang disiapkan) ditambahkan dan diaduk sambil didihkan. Substrat ini didinginkan, kemudian ditambah asam acetat glacial (asam cuka ) sebanyak 2% atau asam cuka dapur 25% (16 ml asam asetat untuk setiap 1 liter air kelapa). Substrat disterilkan dengan cara dimasukkan dalam didihkan selama 15 menit
Fermentasi adalah suatu proses pengubahan senyawa yang terkandung didalam substrat oleh mikroba misalkan senyawa gula menjadi bentuk lain (misalkan Nata de Coco), baik merupakan proses pemecahan maupun proses pembentukan dalam situasi aerob maupun anaerob. Fermentasi substrat air kelapa yang telah dipersiapkan sebelumnya prosesnya sebagai berikut; substrat air kelapa disterilkan dengan cara didihkan selama 15 menit. Substrtat didinginkan hingga suhu 40oC. Substrat dimasukkan pada nampan atau baskom steril dengan permukaan yang lebar, dengan kedalaman substrat kira-kira 5 cm. Substrat diinokulasi dengan menggunakan starter atau bibit sebanyak 10 %. Substrat kemudian diaduk rata, ditutup dengan menggunakan kain kasa. Nampan diperam dengan cara diletakan pada tempat yang bersih, terhindar dari debu, ditutup dengan menggunakan kain bersih untuk menghindari terjadinya kontaminasi. Inkubasi dilakukan selama 10 – 15 hari, pada suhu kamar. Pada tahap fermentasi ini tidak boleh digojok. Pada umur 10-15 hari nata dapat dipanen.
Nata de Coco dipanen pada umur 10-15 hari, dalam bentuk lembaran dengan ketebalan 1 - 1,5 cm. Nata de Coco dicuci dengan menggunakan air bersih, diiris dalam betuk kubus, dicuci dengan menggunakan air bersih. Nata de Coco direndam dalam air bersih selama 2-3 hari. Agar rasa asam Nata de Coco hilang perlu direbus hingga selama 10 menit. Hingga tahap ini telah dihasilkan Nata de Coco rasa tawar.
Untuk menghasilkan Nata de Coco siap konsumsi yang memiliki rasa manis dengan flavour tertentu perlu dilakukan proses lanjut. Nata de Coco direbus dalam air bergula. Penyiapan air bergula dengan cara menambahkan gula pasir sebanyak 500 gr ke dalam 5 liter air ditambahkan vanili atau flavour agent lain untuk menghasilkan valour yang diinginkan. Potongan Nata de Coco bentuk dadu dumasukkan kedalam air bergula selanjutnya direbus hingga mendidih selama 15 menit. Nata de Coco didingankan dan siap untuk dikonsumsi.

Selamat Mencoba..

 Proses Fermentasi Nata De Coco
 

Sabtu, 16 April 2011

Sekilas mengenal kelompok informasi masyarakat (KIM)

Demokratisasi merupakan salah satu tujuan reformasi di Indonseia, dengan demokratisasi diharapakan akan tercipta keadaan yang lebih baik, keadilan lebih terjaga, kesempatan lebih merata, karena masyarakat bisa lebih aktif mengawasi dan memberikan masukan kepada Pemerintah, sementara itu Pemerintah juga akan semakin bijak dalam menyikapi setiap tuntutan masyarakat, dan semakin cerdas dalam memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat.

Hal ini mendorong perlunya upaya pemberdayaan semua sektor secara kompetitif dan transparan yang bermuara pada  peningkatkan kesejahteraan kehidupan masyarakat. Dalam pemberdayaan semua bidang tatanan kehidupan tentunya diperlukan adanya partisipasi masyarakat secara utuh, sedangkan Pemerintah dalam hal ini cukup memfasilitasi apa yang dibutuhkan oleh masyarakat, sehingga akan tercipta komunikasi yang sinergis, baik dalam menginformasikan issu-issu pembangunan maupun menerima masukan dari masyarakat dengan mengedepankan iklim yang lebih terbuka dalam menerima, mengolah dan melayani informasi publik.

Ini merupakan paradigma baru dalam pranata kehidupan di era demokrasi dan otonomi, dimana informasi menjadi kebutuhan yang sangat penting, karena dari informasi ini akan dimanfaatkan untuk meningkatkan pengetahuan yang akan merubah sikap dan perilaku masyarakat, masyarakat akan menjadi cerdas, berpengetahuan, trampil dan mandiri sehingga mampu meningkatkan kesejahteraannya.
Oleh sebab itu dalam tatanan kehidupan bermasyarakat di perlukan wadah yang legitimate yang keberadaannya diakui publik. Wadah yang dimaksud adalah Kelompok Informasi Masyarakat ( KIM ) yang berperan sebagai agen informasi di tengah-tengah masyarakat, dengan adanya KIM di dalam masyarakat akan mampu menjembatani kepentingan Pemerintah dengan masyarakat atau sebaliknya secara horizontal.

Informasi menjadi “barang” yang paling berharga saat ini dan menjadi “alat” untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Untuk memperoleh dan mengelola informasi butuh partisipasi aktif dari masyarakat itu sendiri. Diperlukan adanya pemberdayaan masyarakat dengan mengembangkan paradigma komunikasi dengan masyarakat (communication with the people) bukan lagi komunikasi untuk masyarakat (communication for the people).

Dengan latar belakang tersebut maka dibentuklah Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) yang merupakan konsep alternative dalam mengatasi hambatan informasi di lingkungan masyarakat terutama masyarakat pedesaan. KIM adalah suatu lembaga layanan publik yang diebntuk dan dikelola dari, oleh, dan untuk masyarakat yang secara khusus berorientasi pada layanan informasi dan pemberdayaan masyarakat sesuai kebutuhannya.
 

Pamekasan Nyatakan Aman Dari Serangan Ulat Bulu

PAMEKASAN - Dinas Pertanian Pamekasan, Madura menyatakan, Kabupaten Pamekasan aman dari serangan hama ulat bulu, sebagaimana terjadi di sejumlah daerah lain di Jawa Timur. Kendatipun demikian, dinas terkait tetap meminta para petani waspada dan melaporkan kepada petugas penyuluh lapangan atau secara langsung ke Dinas Pertanian apabila ditemui adanya hama ulat bulu.
"Sampai detik ini, belum ada temuan dari petugas kami di lapangan atupun laporan dari petani adanya hama ulat bulu yang menyerang tanaman dan pepohonan mereka," kata Kepala Dinas Pertanian (Disperta) Pamekasan, Isye Windarti dikantornya, Selasa (12/4).
Sejumlah petani di wilayah perdesaan di Kabupaten Pamekasan juga mengaku, tanaman mereka aman dari serangan ulat bulu. Seperti yang diakui salah seorang kelompok tani di Desa Gagah, Kecamatan Kadur, Pamekasan Misnadi.
Menurut dia, tanaman pertanian mereka seperti jagung, padi cabai dan ketela pohon masih normal dan tidak ada yang terserang hama ulat bulu. "Alhamdulillah tidak ada tanaman yang terserang hama ulat," ujar Misnadi, menjelaskan.
Kendatipun demikian para petani di desanya mengaku resah, dan khawatir hama ulat bulu juga menyerang pertanian warga di wilayah itu. Misnadi menuturkan, hama ulat bulu memang menyerang pertanian warga di desa itu pada tahun 1980-an lalu, dan menyebabkan banyak pepohonan habis dimakan ulat. "Setelah itu tidak ada lagi," ucapnya.
Biasanya hama ulat terjadi menjelaskan pergantian musim dari musim hujan ke musim kemarau. Dan pada musim angin kencang hama ulat musnah dengan sendirinya karena tertiup angin. (Ant/Van)